Kumpulan Cerpen, Novel, Puisi, Komunitas Penulis, Lomba Menulis Cerpen dan Novel

Cerpen Cinta: Blind

Victoria membuka matanya perlahan. Sekujur tubuhnya terasa lemah, lemas, remuk, semua bertumpuk menjadi satu. Matanya sembab. Dipijaknya lantai kamar putihnya yang terasa sangat dingin itu. Dress putihnya bergerak pelan ketika Victoria berdiri. Kamar itu masih berantakan. Foto tersebar di sana-sini. Bahkan beberapa bingkai fotonya telahpatah dan kacanya pecah. Keadaan kamar itu begitu kacau, sekacau pikiran Victoria.
Victoria melangkah pelan mendekati jendela dengan kaki telanjangnya. Tak sedikitpun terlintas di otaknya bahwa ia takut menginjak beling-beling yang berserakan, tidak, dia malah justru menginginkan itu. Tangan kanan Victoria menyibak gorden cream itu pelan, melihat keluar. Sinar Matahari telah setengah sempurna di luar sana. Tapi keadaannya sepi. Sangat sepi.
“Eoddiga?” lirih Victoria dengan suaranya yang menghilang.
Matanya kembali mencari, mencari sesuatu. Lelah, benar-benar lelah. Tapi dia tak menemukan apa-apa. Gorden itu kembali ditutup dengan perlahan. Lagi-lagi kaki Victoria melangkah untuk keluar dari kamarnya. Satu demi satu langkahnya tercipta tanpa iringan. Dan KRAK!!!
“Ah....,” rintihnya. Kakinya menginjak beling. Beling itu menancap cukup dalam.
Victoria mendudukan dirinya. Ia mengeryit dalam saat tangannya bergerak menarik beling itu. dan matanya terpejam menahan sakit, bersama sebuah air mata mengalir.
“Sakit...tolong aku..!!!” rintihnya.
Tapi tak ada yang menanggapi permintaan tolongnya itu. Tidak ada suara. Tidak ada langkah kaki yang tergesa-gesa menghampirinya. Bahkan anginpun tidak bertiup.
Airmata Victoria semakin deras mengalir.
“Kau dimana ? Aku butuh bantuanmu… Chagi!! Kakiku sangat sakit!!” teriak Victoria.
Darah segar mengalir menetes di lantai.
“Chagi! Kyuhyuun!! Kau dimana? Kyuhyun! Kau dimana? Kau tidak meninggalkanku kan? Kyuhyun!!” teriaknya lagi. Kali ini teriakkan itu berpadu dengan rasa takut Victoria.
Mata Victoria memandang ke arah pintu. Tubuhnya melemas, dengan mata berkunang. Di pintu itu…tidak! Di pintu itu tidak ada siapapun! Kyuhyun tidak ada disana. Tidak ada. Tubuh Victoria tergeletak lemah di lantai.
“Kyuhyun, kau dimana?” tanya Victoria menggantung dalam udara di sekitarnya tanpa ada satupun suara menjawabnya. Dunia Victoria kembali menggelap.

*FLASHBACK*

“Lihat, lihat cincin-ku! Bagus kan?” celoteh Victoria menyandar pada bahu Kyuhyun.
Kyuhyun tertawa dan ikut menyandarkan kepalanya ke kepala Victoria. Tangannya juga terangkat ke depan, menjajari tangan Victoria.
“Kau pikir hanya punyamu yang bagus? Aku dua kali lipat lebih bagus dibandingkan cincinmu!” bantah Kyuhyun.
Victoria memukul gemas paha Kyuhyun.
“Ya! Cho Kyuhyun, dimana-mana itu namja seharusnya memuji penampilan yeoja-nya, bukan membanggakan diri sendiri!” protes Victoria seraya mengangkat kepalanya dan kini ia berhadapan dengan Kyuhyun.
“Yeoja sepertimu untuk apa dipuji? Cantik…tidak, manis…tidak, feminim… tidak…”
Sebelum Kyuhyun mengucapkan lebih banyak lagi kata-kata ejekan super duper menyebalkan yang pernah Victoria dengar, Victoria segera membungkan mulut Kyuhyun kuat-kuat.
“Diam! Aku memang tidak cantik, manis, feminim dan blablabla..tapi kau mencintaiku kan? Buktinya sekarang kita memakai cincin yang sama. Cincin pertunangan!” bangga Victoria dengan wajah bahagianya.
Kyuhyun melepas bungkaman Victoria itu. dan menggenggam tangan halus itu erat-erat.
“Ne ne ne, untuk yang itu, aku tidak bisa mengelak. Memangaku cinta, akh tidak bahkan sangat mencintamu,” kata Kyuhyun mencium sekilas tangan Victoria. Membuat pipi Victoria bersemu merah.
“Nado saranghaeyo Kyuhyun!” balas Victoria lengkap dengan senyum khas-nya.
Senyum yang selalu bisa membunuh Kyuhyun kapan saja. Membuat Kyuhyun terdiam, dan merasa seperti tersengat listrik. Dan hanya Victoria yang bisa berbuat seperti itu padanya. Kyuhyun kemudian meraih Victoria ke pelukannya. Hangat. Terasa sangat hangat.
“Saranghae…jeongmal saranghae..yeongwonhi. Aku akan terus mencintaimu sampai aku mati...,” kata Kyuhyun pelan terdengar seperti berbisik ditelinga Victoria.
Victoria tersenyum simpul.
“Arra, aku juga mencintamu...,” balas Victoria.
Mereka berpelukan cukup lama, hingga jam dinding Victoria berbunyi. Berdentang sebanyak 11 kali.
“Astaga, jam 11? Akh, kenapa aku tidak sadar...,” pekik Victoria melepas pelukan itu.
Kyuhyun menilik jam tangannya.
“Vicco, aku harus pulang sepertinya…,” kata Kyuhyun tiba-tiba.
Mata Victoria membulat.
“Mwo? Tapi ini sudah malam. Aku tidak mau terjadi apa-apa denganmu. Lebih baik kau menginap saja ya?” tawar Victoria.
Kyuhyun menggeleng.
“Aniya. Kita belum menikah, jadi kita tidak boleh tidur dalam satu rumah yang sama sebelum menikah. Kau mau tetanggamu beranggapan buruk tentangmu?” ucap Kyuhyun.
“Tapi kita kan tidak tidur dalam satu kamar yang sama. Kau bisa di sofa dan aku di kamar.”
“Aniya, aku harus pulang.” Kata Kyuhyun kemudian meletakkan tangannya di atas kepala Victoria.
“Song Xi Quan, dengar ya? Aku, Cho Kyuhyun, tidak mau tidur dalam satu rumah yang sama denganmu sebelum kita menikah. Tapi itu bukan berarti aku tidak mencintaimu. Justru karena aku sangat sangat mencintaimu, aku tidak mau terjadi hal yang tidak kita inginkan. Dan satu lagi, catat ucapanku, ingat, atau kalau perlu kau ukir baik-baik di pikiranmu. Aku Cho Kyuhyun, selamanya hanya mencintai Victoria Song. Tidak ada yang lain. Arra?”
Victoria terdiam. Jantungnya berdebar. Sungguh kata-kata itu begitu membuatnya ingin terbang mengelilingi dunia. Membuat darahnya menari-nari tidak jelas di dalam tubuhnya.
Victoria hanya bisa mengangguk dengan selembar senyum. Dan Kyuhyun ikut tersenyum, tangannya mengacak rambut Victoria pelan. Kyuhyun bangkit seraya menggegam tangan Victoria.
“Kajja, antarkan aku ke depan,” kata Kyuhyun.
Victoria mengangguk dan mempererat pegangan tangannya. Mereka berdua melangkah pelan menuju pintu, hingga pintu ituterbuka, suasana di luar rumah begitu sepi. Hanya terdengar kerikan jangkrik.
“Hati-hati di jalan Kyuhyunnie…,” kata Victoria tetap berpegangan erat. Entah kenapa rasanya enggan sekali melepas genggaman itu, seakan-akan genggaman itu adalah genggaman tangan yang terakhir dari Kyuhyun.
Kyuhyun tersenyum.
“Hmmm..arraseo! sudah ya, aku pulang..,” kata Kyuhyun melepas pegangan tangannya pelan lalu mulai melangkah pergi, tapi tiba-tiba ia berhenti.
“Ah, ada yang lupa...,” katanya berbalik dan tersenyum lebar mendekati Victoria.
“Apa?” tanya Victoria mengangkat alisnya.
Kyuhyun tertawa kecil lalu ia memegang bahu Victoria.
“Ini…”
Bibir Kyuhyun menyentuh lembut dahi Victoria. Cukup lama. Pipi Victoria bersemu lagi. Tubuhnya terasa panas dingin.
“Annyeong My Victoria…,” kata Kyuhyun melangkah pelan ke mobilnya.
Di nyalakannya mesin mobilnya itu. Lalu sekali lagi, matanya mengarah pada Victoria yang juga sedang memandangnya. Kyuhyun melambai dan tersenyum lebar. Victoria balas lambaian itu dengan segera.
“Jaga dirimu baik-baik, chagi..,” lirih Kyuhyun.
Di injaknya gas mobil dan perlahan mobil itu meninggalkan halaman rumah Victoria. Sementara Victoria terus memandangi mobil Kyuhyun hingga mobil itu benar-benar hilang. Tangannya mengepal di depan dadanya. Meremas bajunya.
“Jaga Kyuhyun-ku, Tuhan....,” ucapnya.
Kyuhyun melaju pelan. Jalanan malam itu benar-benar sepi.
“Victoria…victoria..victoria..” ucap Kyuhyun menyenandungkan nama Victoria dengan riang.
Senyumnya terus terukir dengan pikirannya yang terus memputar-putar tampilan wajah Victoria. Senyum Victoria, tawa Victoria, dan segala tentang Victoria.
Mobil hitam Kyuhyun terus melaju dengan pelan. Namun, dari arah berlawanan sebuah mobil melaju ugal-ugalan. Jalannya tidak sinkron. Sebentar di kanan lalu ke kiri. Melaju begitu cepat. Dan mobil itu melaju di lajur yang salah. Jalan yang salah!.
Sementara mobil Kyuhyun menikung pelan dan mata Kyuhyun langsung membelalak begitu melihat mobil dari arah berlawanan melaju dengan cepatnya. Tangannya baru akan membanting stir. Tapi terlambat. Suara dentuman yang amat keras terlebih dahulu terdengar beserta suara sirine kedua mobil. Tabrakan itu tak bisa dihindari. Tubuh Kyuhyun lemah terkulai. Terjepit stir dan tempatnya duduk. Darahnya mengalir dari segala bagian tubuhnya. Beling kaca mobilnya menyilet-ngilet wajahnya. Tangannya menggantung.
“Vic…….”
Nama itu belum selesai disebutkan. Belum selesai!. Tapi nyawa itu telah lebih dulu terangkat dari tubuh pemiliknya. Tangan yang menggantung itu juga sudah tak bergerak, dan sebuah darah mengalir melewati cincin berwarna perak itu.

*END FLASHBACK*

Mata Victoria terbuka seketika. Nafasnya tersengal dengan keringat mengalir. Mimpi itu. Mimpi tentang kilasan wajah Kyuhyun yang telah beku dan tak mengucapkan apa-apa. Victoria bangkit. Matanya mengelilingi kamarnya sendiri.
“Kyuhyun tidak ada…,” ucapnya lirih dengan airmata dan isakan. Dadanya penuh akan sesak.
“Kyu.....,” sekali lagi nama itu terucap. Semakin membuatVictoria sakit.
Victoria menunduk. Tangannya yang masih terkena darah dikakinya tadi bergerak pelan mengambil salah satu foto di dekatnya. Foto itu. Foto Kyuhyun merangkulnya.
“Kyuhyun…kyuhyun…aku mencintaimu….,” lirihnya terus mengisak dengan airmata yang tak pernah habis.

***

Victoria tersenyum simpul. Senyum yang sangat tipis. Duka hatinya masih bergelora sampai bulan ketiga ini. Ditutupnya pulpen berwarna merah muda itu. Kemudian lembaran kertas di hadapannya itu dilipat rapi dan dimasukkan ke dalam amplop.
“Selesai...,” katanya lalu bangkit dan meletakkan amplop itu di nisan Kyuhyun bersama dengan bunga ester putih-kuning itu.
“Kau harus membacanya..,” kata Victoria memandang nisan itu. Air matanya tidak bisa ditahan, dan mengalir begitu saja.
“Annyeong..,” ucapnya mengusap airmatanya pelan dan berbalik.
Victoria melangkah pelan. Rambutnya berterbangan ringan ditiup angin. Seraya melangkah ia kembali mengingat apa yang telah ditulisnya tadi.


To : Cho Kyuhyun.
Hai, Kyuhyun.
Aku ingin menyampaikan segala perasaanku yang tak pernah kau tahu selama ini. Perasaan yang sangat besar dan hanya tersedia untukmu. Perasaan yang begitu menggembung lebar dalam diriku. Tidak pernah bisa sama sekali aku menghilangkannya.
Bahkan setelah tiga bulan kau pergi, perasaan ini masih begitu jelas untukku. Baiklah, aku tahu kau tidak suka basa-basi, jadi aku akan langsung mengatakannya.
Kyuhyun, aku sangat sangat mencintaimu. Benar-benar mencintaimu. Dan aku semakin mencintaimu sekarang. Meski kita berada di alam yang sangat berbeda. Dan aku tak akan pernah lagi bisa melihatmu dengan mataku ini, tapi mata hatiku hanya akan selalu melihatmu.
Aku menyayangimu. Dan aku senang, kau menepati janjimu. Janji bahwa kau akan mencintaiku sampai mati. Aku sangat bangga memiliki tunangan sepertimu, apa aku sudah mengatakannya? Kurasa belum.
Kyuhyunnie, Song Xi Quan di sini sangat merindukannmu. Sangat sakit hatinya karena tak bisa melihatmu. Sangat rapuh jiwanya karna tidak ada kau di sini. Tapi, aku juga sangat kuat karena cintamu. Cintamu yang sampai sekarang masih mengalir dengan kentalnya bersama darahku. Masih hidup bersama detakan jantungku.
Selamat tinggal Kyuhyun. Meski kau tidak ada di dunia yang sama denganku, jiwamu akan selalu tertanam di dalam sini, di hatiku..
Saranghaeyo, ChoKyuhyun.


Victoria Song.
Tag : Cerpen, Cinta
1 Komentar untuk "Cerpen Cinta: Blind"
obat penyakit jantung
delete

cukup menarik buat saya ..kita dapat mengambil inti dari kisah ini..sukses saja

Untuk diperhatikan!!!

1. Dalam berkomentar gunakan bahasa yang sopan
2. Dilarang menyisipkan link aktif
3. Komentar yang mengandung unsur kekerasan, porno, dan manyinggung SARA akan dihapus

Back To Top