Toko Amazon.com

Cerpen Cinta: Darahku dan Cintamu #1

Sebelum membaca cerpen ini, alangkah baiknya para pemirsa dimanapun Anda berada sedia tisu sebelum hujan (air mata), hehehe. Selamat mencicipi kisahnya!

Aku masih menelusuri hiruk pikuk toko emas,  mataku melirik ke kiri dan kanan mencoba mengingat toko emas yang ku kunjungi dua bulan lalu untuk membuat cincin lamaranku ke Tania. Toko Sinar Emas, yah ku lihat lagi toko emas itu dan meyakinkan langkahku untuk masuk kedalamnya.
Aku tarik nafas panjang dan mengeluarkan kotak cincin emas dari saku celanaku, ingatanku kembali tertampar saat membuka kotak cincin emas buat Tania, cincin yang ku beli saat gaji pertamaku menjadi seorang pegawai negeri sipil, cincin sederhana untuk melamarnya menjadi pendampingku dan calon ibu dari anak-anakku kelak bersamanya. Namun tak pernah muncul difikiranku kalau orang yang ku cintai empat tahun lamanya menolak lamaranku hanya dengan alasan belum siap berjalan beriringan melewati rumah tangga dengan penghasilanku yang pas-pas’an. Dia seperti menampar wajahku dengan bola api kehidupan yang begitu panas membakar semua harapanku lalu dia pergi meninggalkan hatiku yang remuk dan berlenggang dengan cantiknya mencari ambisinya menjadi seorang model. Terlalu sakit saat mengingat akhir cerita dengannya dan cincin ini begitu menyesakan dadaku.  Kini aku kembali pada toko emas hanya untuk membuang semua harapan yang telah hangus terbakar rasa kecewa, dengan hati yang sangat berat ku jual kembali cincin cintaku selama empat tahun pada Koko Lim yang berbadan putih tambun lalu aku pergi secepat mungkin meninggalkan Toko Sinar Emas.
Belum cukup lima belas menit, otakku di gerogoti kenangan bersama Tania. Saat dia bilang, “Mas nanti kalau kita menikah aku ingin memiliki dua orang anak, aku mau anak pertama seorang pria dan anak kedua wanita. Saat mas libur kantor kita kita jalan ke kawah putih lalu traveling ke ke raja ampat.” Semua tawa, manja dan suaranya menggoda ingatanku dan ku putar kembali sepeda motorku menuju Toko Sinar Emas. Aku berlari secepat mungkin ke toko itu untuk mengambil kembali kenanganku yang baru ku jual, namu dadaku semakin sesak saat cincin itu sudah tidak terpajang pada etalase emas milik Koko Lim.

“Ko...Maaf cincin yang barusan aku jual itu bisa ku beli kembali?” tanyaku dengan nafas yang masih belum beraturan.
“Haiya, kamu olang ini bagaimana, balu jual sekalang mau beli lagi, cincin kamu sudah laku.” Koko Lim berbicara denganku dengan dialek aneh mengganti huruf R menjadi L.
“Kalau begitu saya minta no telepon pembelinya Ko, bisakan?? Aku mohon Ko.” pintaku dengan memelas.

Melihat wajahku yang penuh dengan raut nasib tak jelas dan aura kesedihan yang mungkin terpancar dan bisa dibaca oleh Koko Lim, dia memberiku nota karbones berisi nama dan no handphone pembeli cincin kenanganku.
***
Otakku masih berfikir apa yang harus ku bilang pada pemilik baru cincinku itu, bagaimana kalau dia tak ingin menjualnya kembali padaku. Semua pertanyaan itu muncul tanpa bisa ku jawab, lalu ku beranikan diri menekan no handphone yang ada pada nota pembelian yang diberikan Koko Lim padaku. Terdengar nada sambung dari balik handphone ku dan tak lama kemudian suara merdu itu menyapaku.

“Hallo, Assalamu Alaikum!” suara itu menyapaku.
“Walaikum salam,  maaf benar ini dengan mbak Chika?” tanyaku dengan sedikit gugup
“Oh iya benar ini siapa yah, mas?” tanyanya.

Aku mencoba untuk menceritakan semua yang terjadi pada diriku dan cincin kenangan itu, berharap dia sedikit iba dan mau menjual kembali cincin harapanku bersama Tania. Aku tak tahu apa yang ada dalam fikiran Chika, ia hanya memintaku untuk datang pada perumahan Elite di kawasan Jakarta Selatan. Lalu ku pacu secepat mungkin motorku bagaikan seorang pembalap F1 yang berlaga di sirkuit. Tepat sejam aku sampai depan rumah Chika, rumah yang sangat mewah menurutku dan aku disambut dengan satpam rumah yang berwajah garang namun sangat bersahabat, mengantarku masuk menemui tuan rumahnya. Aku menunggu Chika diruang tamu yang megah, ku lihat foto keluarga yang terpajang dengan ukuran besar di dinding, terlihat seorang pria setengah baya mengenakan setelan jas begitu berwibawa sangat terlihat kalau dia seorang pemimpin dan tepat berdiri disampingnya wanita cantik mengenakan kebaya berwarna senada dengan gadis imut yang duduk sendiri pada foto mereka. aku pastikan itulah Chika gadis yang membawaku sampai dirumah ini.

“Kakak Brian ya?” suara lembut itu mengalihkan penglihatanku pada foto keluarganya.
“Iya” jawabku simpel dan membalas senyuman manisnya.

Aku tak berani menatap matanya yang cantik, jantungku berirama seperti gendang dangdutan. Lalu ku lihat dijari manisnya, ia memakai cincin kenanganku, cincin yang seharusnya melingkar pada jari manis Tania buka jari manis Chika. Ingin rasanya segera ku lepaskan dari jari manisnya.

“Kakak Brian menginginkan cincin ini kembali?” ia sambil memamerkan cincinku di jari manisnya.
“Iya, Kha. Aku kesini memang untuk cincin itu. Aku akan beli berapapun yang kamu minta, tapi kalau boleh jangan terlalu mahal ya.” jawabku sedikit memaksa.
“Aku tidak butuh uang kakak, aku cuma butuh waktu kakak dua minggu menemaniku kemanapun yang aku mau, setelah itu kakak Brian boleh mengambil kembali cincin kakak. Bagaimana?” pinta Chika kepadaku.
“Tapi aku kerja, aku punya tanggung jawab dengan pekerjaanku.” pintaku sedikit menolak permintaanya yang aneh.
“Seminggu kakak ambil cuti dan seminggu lagi kakak temui aku tiap pulang jam kerja.” kembali Chika memberikan permintaan.

Aku tahu Chika punya uang lebih dari yang ku miliki, dia tidak mungkin menukar cincinku dengan uang namun kenapa harus aku yang menemaninya. Permintaan yang harus ku terima dan menelannya seperti pil pahit yang dicekok kedalam mulutku secara paksa.


Bersambung....



Untuk sementara pause dulu yah. Penasaran kan? Hehehe
Nantikan kelanjutan ceritanya di postingan selanjutnya.

Puisi: Jika Aku Jatuh Cinta

Allahu Rabbi aku minta izin
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Jangan biarkan cinta untuk-Mu berkurang
Hingga membuat lalai akan adanya Engkau

Allahu Rabbi
Aku punya pinta
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Penuhilah hatiku dengan bilangan cinta-Mu yang tak terbatas
Biar rasaku tetap utuh

Allahu Rabbi
Izinkanlah bila suatu saat aku jatuh cinta
Pilihkan untukku seseorang yang hatinya penuh dengan kasih-Mu
dan membuat ku semakin mengagumi-Mu

Allahu Rabbi
Bila suatu saat aku jatuh hati
Pertemukanlah kami
Berilah kami kesempatan untuk lebih mendekati cinta-Mu

Allahu Rabbi
Pintaku terakhir adalah seandainya ku jatuh hati
Jangan pernah Kau palingkan wajah-Mu dariku
Anugerahkanlah aku cinta-Mu..
Cinta yang tak pernah pupus oleh waktu


Amin...


writted by Larashati Setyo N

Kisah Inspiratif: Ibu dari Seorang Aktivis

Dimana rumahmu Nak?

Orang bilang anakku seorang aktivis. Kata mereka namanya tersohor dikampusnya sana. Orang bilang anakku seorang aktivis. Dengan segudang kesibukan yang disebutnya amanah umat. Orang bilang anakku seorang aktivis. Tapi bolehkah aku sampaikan padamu nak? Ibu bilang engkau hanya seorang putra kecil ibu yang lugu.

Anakku, sejak mereka bilang engkau seorang aktivis ibu kembali mematut diri menjadi ibu seorang aktivis. Dengan segala kesibukanmu, ibu berusaha mengerti betapa engkau ingin agar waktumu terisi dengan segala yang bermanfaat. Ibu sungguh mengerti itu nak, tapi apakah menghabiskan waktu dengan ibumu ini adalah sesuatu yang sia-sia nak? Sungguh setengah dari umur ibu telah ibu habiskan untuk membesarkan dan menghabiskan waktu bersamamu nak, tanpa pernah ibu berfikir bahwa itu adalah waktu yang sia-sia.

Anakku, kita memang berada disatu atap nak, di atap yang sama saat dulu engkau bermanja dengan ibumu ini. Tapi kini dimanakah rumahmu nak? Ibu tak lagi melihat jiwamu di rumah ini. Sepanjang hari ibu tunggu kehadiranmu dirumah, dengan penuh doa agar Allah senantiasa menjagamu. Larut malam engkau kembali dengan wajah kusut. Mungkin tawamu telah habis hari ini, tapi ibu berharap engkau sudi mengukir senyum untuk ibu yang begitu merindukanmu. Ah, lagi-lagi ibu terpaksa harus mengerti, bahwa engkau begitu lelah dengan segala aktivitasmu hingga tak mampu lagi tersenyum untuk ibu. Atau jangankan untuk tersenyum, sekedar untuk mengalihkan pandangan pada ibumu saja katamu engkau sedang sibuk mengejar deadline. Padahal andai kau tahu nak, ibu ingin sekali mendengar segala kegiatanmu hari ini, memastikan engkau baik-baik saja, memberi sedikit nasehat yang ibu yakin engkau pasti lebih tahu. Ibu memang bukan aktivis sekaliber engkau nak, tapi bukankah aku ini ibumu yang 9 bulan waktumu engkau habiskan didalam rahimku.

Anakku, ibu mendengar engkau sedang begitu sibuk nak. Nampaknya engkau begitu mengkhawatirkan nasib organisasimu, engkau mengatur segala strategi untuk mengkader anggotamu. Engkau nampak amat peduli dengan semua itu, ibu bangga padamu. Namun, sebagian hati ibu mulai bertanya nak, kapan terakhir engkau menanyakan kabar ibumu ini nak? Apakah engkau mengkhawatirkan ibu seperti engkau mengkhawatirkan keberhasilan acaramu? kapan terakhir engkau menanyakan keadaan adik-adikmu nak? Apakah adik-adikmu ini tidak lebih penting dari anggota organisasimu nak?

Anakku, ibu sungguh sedih mendengar ucapanmu. Saat engkau merasa sangat tidak produktif ketika harus menghabiskan waktu dengan keluargamu. Memang nak, menghabiskan waktu dengan keluargamu tak akan menyelesaikan tumpukan tugas yang harus kau buat, tak juga menyelesaikan berbagai amanah yang harus kau lakukan. Tapi bukankah keluargamu ini adalah tugasmu juga nak? Bukankah keluargamu ini adalah amanahmu yang juga harus kau jaga nak?

Anakku, ibu mencoba membuka buku agendamu. Buku agenda sang aktivis. Jadwalmu begitu padat nak, ada rapat disana sini, ada jadwal mengkaji, ada jadwal bertemu dengan tokoh-tokoh penting. Ibu membuka lembar demi lembarnya, disana ada sekumpulan agendamu, ada sekumpulan mimpi dan harapanmu. Ibu membuka lagi lembar demi lembarnya, masih saja ibu berharap bahwa nama ibu ada disana. Ternyata memang tak ada nak, tak ada agenda untuk bersama ibumu yang renta ini. Tak ada cita-cita untuk ibumu ini. Padahal nak, andai engkau tahu sejak kau ada dirahim ibu tak ada cita dan agenda yang lebih penting untuk ibu selain cita dan agenda untukmu, putra kecilku.

Kalau boleh ibu meminjam bahasa mereka,mereka bilang engkau seorang organisatoris yang profesional. Boleh ibu bertanya nak, dimana profesionalitasmu untuk ibu? Dimana profesionalitasmu untuk keluarga? Dimana engkau letakkan keluargamu dalam skala prioritas yang kau buat? Ah, waktumu terlalu mahal nak. Sampai-sampai ibu tak lagi mampu untuk membeli waktumu agar engkau bisa bersama ibu.

Setiap pertemuan pasti akan menemukan akhirnya. Pun pertemuan dengan orang tercinta, ibu, ayah, kakak dan adik. Akhirnya tak mundur sedetik tak maju sedetik. Dan hingga saat itu datang, jangan sampai yang tersisa hanyalah penyesalan. Tentang rasa cinta untuk mereka yang juga masih malu tuk diucapkan. Tentang rindu kebersamaan yang terlambat teruntai.

Untuk mereka yang kasih sayangnya tak kan pernah putus, untuk mereka sang penopang semangat juang ini. Saksikanlah, bahwa tak ada yang lebih berarti dari ridhamu atas segala aktivitas yang kita lakukan. Karena tanpa ridhamu, mustahil kuperoleh ridha-Nya.

Motivasi: Beauty of Mathematics

Benar-benar menakjubkan!

1 x 8 + 1 = 9
12 x 8 + 2 = 98
123 x 8 + 3 = 987
1234 x 8 + 4 = 9876
12345 x 8 + 5 = 98765
123456 x 8 + 6 = 987654
1234567 x 8 + 7 = 9876543
12345678 x 8 + 8 = 98765432
123456789 x 8 + 9 = 987654321

1 x 9 + 2 = 11
12 x 9 + 3 = 111
123 x 9 + 4 = 1111
1234 x 9 + 5 = 11111
12345 x 9 + 6 = 111111
123456 x 9 + 7 = 1111111
1234567 x 9 + 8 = 11111111
12345678 x 9 + 9 = 111111111
123456789 x 9 +10 = 1111111111

9 x 9 + 7 = 88
98 x 9 + 6 = 888
987 x 9 + 5 = 8888
9876 x 9 + 4 = 88888
98765 x 9 + 3 = 888888
987654 x 9 + 2 = 8888888
9876543 x 9 + 1 = 88888888
98765432 x 9 + 0 = 888888888

Brilian, bukan?
Dan lihat simetri ini:

1 x 1 = 1
11 x 11 = 121
111 x 111 = 12321
1111 x 1111 = 1234321
11111 x 11111 = 123454321
111111 x 111111 = 12345654321
1111111 x 1111111 = 1234567654321
11111111 x 11111111 = 123456787654321
111111111 x 111111111 = 12345678987654321

Sekarang, lihatlah ini!
Dari sudut pandang matematika:
Apa yang setara dengan 100%?
Apa artinya memberi LEBIH dari 100%?
Pernahkah bertanya-tanya tentang orang-orang yang mengatakan mereka memberikan lebih dari 100%?
Kita semua telah dalam situasi di mana seseorang ingin Anda untuk MEMBERI LEBIH 100%.

Bagaimana MENCAPAI 101%?
Apa yang setara dengan 100% dalam hidup?
Berikut adalah rumus matematika yang mungkin bisa membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan ini:

Jika:
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z 

direpresentasikan sebagai:
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 

maka,

H-A-R-D-W-O-R-K
8 + 1 + 18 + 4 + 23 + 15 + 18 + 11 = 98% 

dan
K-N-O-W-L-E-D-G-E
11 + 14 + 15 + 23 + 12 + 5 + 4 + 7 + 5 = 96% 

tapi,
A-T-T-I-T-U-D-E
1 + 20 + 20 + 9 + 20 + 21 + 4 + 5 = 100% 

DAN
L-O-V-E-O-F-G-O-D
12 + 15 + 22 + 5 + 15 + 6 + 7 + 15 + 4 = 101%

Oleh karena itu, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa:
Sementara "Kerja Keras" dan "Pengetahuan" akan membuat Anda mendekati 100% dan "Sikap" akan membawa Anda kepada 100%, namun "Kasih Tuhan" yang akan melampaui segalanya.

Motivasi: Renungan #2

Semakin dalam penderitaan terukir, semakin banyak pula kebahagiaan.

Bukankah cangkir yang terisi anggurmu adalah cangkir yang terbakar dalam pembakar pot?

Dan bukankah kecapi yang menyejukkan jiwamu adalah kayu yang dilubangi oleh pisau?

Ketika kau bahagia, lihatlah dalam-dalam hatimu dan kau akan menemukan bahwa yang telah memberimu penderitaanlah yang dapat memberimu kebahagiaan.


Ketika kau menderita, lihat lagi dalam hatimu, dan kau dapat melihat dalam kebenaran bahwa kau menangisi apa yang telah menjadi kegembiraanmu.

Kisah Inspiratif: Apakah Tuhan Menciptakan Kejahatan?

Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada? Apakah Tuhan menciptakan kejahatan?

Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini, “Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”.

Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, "Betul, Dia yang menciptakan semuanya".

"Tuhan menciptakan semuanya?" Tanya professor sekali lagi.

"Ya, Pak, semuanya" kata mahasiswa tersebut. Profesor itu menjawab, "Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan."
Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.

Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, "Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?"

"Tentu saja," jawab si Profesor.

Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, "Profesor, apakah dingin itu ada?".

"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?" Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

Mahasiswa itu menjawab, "Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas. 

Mahasiswa itu melanjutkan, "Profesor, apakah gelap itu ada?"

Profesor itu menjawab, "Tentu saja itu ada."

Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi anda salah, Pak.Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, "Profesor, apakah kejahatan itu ada?"

Dengan bimbang professor itu menjawab, "Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan."

Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi Anda salah, Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kajahatan. Kajahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya."

Profesor itu terdiam. Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein.

Motivasi: Renungan #1

Di tengah malam penjaga kota berkata, 'Keindahan muncul dengan fajar di timur.'

Dan di siang hari pengembara berkata, 'Kami telah melihatnya bersandar di tanah dari jendela matahari tenggelam.'

Saat musim dingin kata pengembara salju, 'Ia datang dengan musim semi yang merayapi bukit.'

Dan di musim panas pemetik buah berkata, 'Kami melihatnya menari dengan daun-daun musim gugur, dan kami melihatnya pergi dengan salju di rambutnya.'

Semua yang kalian katakan ini adalah keindahan. Namun sebenarnya apa yang kau katakan bukan keindahan, melainkan kebutuhan yg tidak terpuaskan.

Dan keindahan bukan kebutuhan, melainkan kenikmatan. Bukan mulut yanag dahaga atau tangan hampa yang meregang, namun hati yang menyala dan jiwa yang menyanyi.

Bukan getah dari dalam pohon atau sayap dari cakar, melainkan sebuah kebun yang selamanya mekar dan kumpulan bidadari yang selamanya melayang.

Kisah Inspiratif: Letak Kebahagiaan

Konon pada suatu waktu...
Tuhan memanggil tiga malaikatnya dan memperlihatkan sesuatu. Tuhan berkata, “Ini namanya Kebahagiaan. Ini sangat bernilai sekali. Ini dicari dan diperlukan oleh manusia. Simpanlah di suatu tempat supaya manusia sendiri yang menemukannya. Jangan ditempat yang terlalu mudah sebab nanti kebahagiaan ini disia-siakan. Tetapi jangan pula di tempat yang terlalu susah sehingga tidak bisa ditemukan oleh manusia. Dan yang penting, letakkan kebahagiaan itu di tempat yang bersih”.
Setelah mendapat perintah tersebut, turunlah ketiga malaikat itu langsung ke bumi untuk meletakkan kebahagiaan tersebut. Tetapi dimana meletakkannya? Malaikat PERTAMA mengusulkan, “Letakan dipuncak gunung yang tinggi”. Tetapi para malaikat yang lain kurang setuju. Lalu malaikat KEDUA berkata, “Letakkan di dasar samudera”. Usul itupun kurang disepakati. Akhirnya malaikat KETIGA membisikkan usulnya. Ketiga malaikat langsung sepakat. Malam itu juga ketika semua orang sedang tidur, ketiga malaikat itu meletakkan kebahagiaan di tempat yang dibisikkan tadi.
Sejak hari itu kebahagiaan untuk manusia tersimpan rapi di tempat itu. Rupanya tempat itu cukup susah ditemukan. Dari hari ke hari, tahun ke tahun, kita terus mencari kebahagiaan. Kita semua ingin menemukan kebahagiaan. Kita ingin merasa bahagia. Tapi dimana mencarinya?
Ada yang mencari kebahagiaan sambil berwisata ke gunung.
Ada yang mencari di pantai.
Ada yang mencari ditempat yang sunyi.
Ada yang mencari ditempat yang ramai.
Ada yang mencari rasa bahagia di sana-sini, di pertokoan, di restoran, di kolam renang, di lapangan olahraga, di bioskop, di layar televisi, di kantor, dan lainnya.
Ada pula yang mencari kebahagiaan dengan kerja keras, sebaliknya ada pula yang bermalas-malasan.
Ada yang ingin merasa bahagia dengan mencari gelar, mengejar jabatan, memburu harta dll.
Semua orang ingin menemukan kebahagiaan. Pernikahan-pun, selalu dihubungkan dengan kebahagiaan. Orang seakan-akan beranggapan bahwa jika belum menikah berarti belum bahagia. Padahal semua orang mengerti bahwa menikah tidaklah identik dengan bahagia. Juga kekayaan sering dihubungkan dengan kebahagiaan. Alangkah bahagianya kalau aku punya ini atau itu, tetapi kemudian ketika kita sudah memilikinya, kita tahu bahwa benda tersebut tidak memberi kebahagiaan. Kita ingin menemukan kebahagiaan.
Kebahagiaan itu diletakkan oleh tiga malaikat secara rapi. Dimana meletakkannya? Bukan dipuncak gunung seperti diusulkan oleh malaikat pertama. Bukan didasar samudera seperti usulan malaikat kedua. Melainkan di tempat yang dibisikkan oleh malaikat ketiga. Dimanakah tempatnya?
Ternyata para malaikat menyimpan kebahagiaan itu...

DI HATI YANG BERSIH.

Cerpen Lucu: Tukang Mie Ayam Main Facebook

Kejadian ini bermula ketika secara tak sengaja aku berpapasan dengan tukang mie ayam keliling yang biasa beredar di depan rumah. Siang itu, kulihat dia tengah berasyik masyuk di pinggir jalan, cekikikan sambil melihat sesuatu yang ada di tangannya. Bahkan saking asiknya, gerobak mie ayam itu ditinggalkannya begitu saja, seakan mengundang pemulung jail untuk mengangkutnya.

Karena penasaran, diriku pun bertanya:
"Mas Jason (panggil saja demikian, karena dia sering dipanggil Son ama pelanggannya "Son..mie ayamnya siji maning sooon.."), sedang apa kok asik bener di pojokan?"

"Eh mas ganteng...( satu hal yang aku suka dari Jason adalah : Orangnya suka
bicara Jujur!), ini mas, lagi update status!!..." jawab Mas Jason.

***WADEZIG!!!

"Weehhh... njenengan fesbukan juga to??" tanyaku heran.

"Ya iyalah mas... hareee geneee ga fesbukan?! Lagian kan lumayan juga buat menjaring pelanggan lewat fesbuk, kata pak Hermawan Kertajaya kan dalam berdagang kita harus selalu melakukan diferensiasi termasuk dalam hal pemasaran mass." jawabnya lagi dengan penuh keyakinan.

***GLEK!!
Gw yang sering naik Kereta ke Jawa aja gak tau kalo ada yg namanya Hermawan Kereta Jaya

"Emang mas statusnya apa?" tanyaku penasaran.

"Nih mas aku bacain:
Promo Mie Ayam, beli dua gratis satu mangkok, beli tiga gratis nambah kuah, beli empat gratis timbang badan...takutnya anda obesitas...segera saya tunggu di gang Jengkol, depan tengkulak Beras Mpok Hepi. Mie Ayam Jason: Melayani dengan Hati... ampela, usus dan jeroan ayam lainnya." sambil menunjukan handphone-nya.

***GUBRAK!!
Dua kosong untuk mas jason. Gw yg uda lama fesbukan aja ga bisa bikin status se--atraktif dia.

Tapi ada yg aneh pas kulirik ke handphone  yang dia pake. Aku kira handphone-nya blackberry atau minimal nokia seri baru yang uda bisa pake internetan. Selidik punya selidik, ternyata...handphone-nya lawas bin jadul. HP yang masih monokrom, suara belum poliponik, dan masih pake antena luar kayak radio AM.

"Mas, tapi kok bisa update fesbuk pake henpon sederhana gitu? (bahasa halusnya henpon lawas). Gimana caranya?? tanyaku bingung.

"Owwh.. gampang mas, saya tinggal nulis statusnya lewat SMS lalu kirim ke Tri.” jawab dia datar.

"Ohh.. mas nya pake Kartu Three ya? Yang gratis internetan itu?" tanyaku lagi.

"Bukaaaan mas, Tri itu lengkapnya Tri Ambarwati. Dia itu pacar saya, sama-sama dari Tegal, yang kerjaannya jagain Warnet 24 Jam! Jadi kalo butuh update, tinggal sms dia aja nanti dia yang gantiin status saya. Lha wong dia tiap hari di depan komputer jagain warnet. Paling sebagai balesannya saya gratisin mie ayam seminggu sekali...murah to??" jawabnya sambil cengengesan.

Mendadak kepalaku pusing, bagaikan menderita dehidrasi akut sekaligus hipotermia tingkat tiga. Aku limbung mendengar jawaban SPEKTAKULER dari Mas Jason...BRUK!!